Miris melihat pemandangan di jalan besar akhir-akhir ini
Setelah kampanye terbuka di mulai, para parpol turun ke jalan untuk mengampanyekan partai mereka
Akan tetapi kenapa cara mereka berkampanye merusak ketenangan secara tiba-tiba?
Inikah Indonesia "Cinta Damai"?
Inikah Indonesia "Negara Demokrasi"?
Inikah Indonesia "Bebas Berpendapat"?
Kenapa
mereka merusak pemandangan dengan memampang berbagai macam spanduk di
antar pepohonan yang melintang di atas jalan raya? Yang bisa merusak
pepohonan dan mengganggu penglihatan para pengemudi?
Kenapa mereka memasang berbagai atribut selain spanduk yang juga merusak pemandangan dan mengotori?
Yang menyebalkan..
Haruskah mereka berkeliling kota dengan rombongan motor yang mesinnya sudah di modifikasi sehingga menghasilkan suara yang membisingkan?
Dengan keributan yang sangat dengan membawa bendera-bendera besar sehingga membuat kemacetan dimana-mana dan pengendara lain harus mengalah, inikah yang di sebut kampanye?
Polisi pun bahkan mendukung dan tidak ada kata tilang. Apakah hal seperti ini memang mendapat dukungan penuh dari pemerintah?
Aku memang anak kecil yang tidak tahu menahu untuk masalah rumit yang seperti itu
Tapi lain hal, aku sudah mengerti mana yang baik dan mana yang buruk walaupun terkadang butuh bantuan orang lain
Tetapi apakah untuk hal ini di sebut hal yang baik karena untuk menuju masa depan yang lebih cemerlang?
Tidak adakah jalan lain yang lebih damai dan tentram lainnya yang dapat di tempuh?
Sepanjang jalan dari RSUD Wirosaban hingga Jalan Taman Siswa, aku 4x menemukan anggota kampanye yang sedang nangkring untuk memulai aksinya, 1x aku mengalah jalan karena seluruh ruas badan jalan tertutupi oleh mereka yang menaiki sepeda motor "bising"
Ketika di perempatan Jalan Taman Siswa puluhan polisi mengatur lalu lintas karena untuk memberi jalan pada orang-orang yang sedang berkampanye
Sepentingkah hal begitu sehingga lebih diutamakan jalan raya untuk orang-orang yang berkampanye?
Tujuanku ke Taman Siswa adalah untuk bimbel. Selama 1,5 jam konsentrasi hancur bener-bener hancur. Selama ini macetnya Jalan Taman Siswa disebabkan oleh kurang tertibnya para pengendara kendaraan bermotor namun macet yang tanpa bising
Tetapi kali ini...
Macet dengan suara yang sangat sangat sangat membisingkan
Aku benci Indonesia saat ini! Tidak mengerti prioritas. Tidak menghargai sesama manusia. Tidak mengerti mana yang penting mana yang percuma. Mana yang didahulukan mana yang dibelakangkan
Aku gatau mau nulis apalagi saking saking keselnya aku sama Indonesia saat ini.
Aku cuma mau curhat : aku berniat untuk belajar serius, rela-rela jauh ke Jalan Taman Siswa buat tambahan pelajaran, tapi belum sampe tempat telinga ku sakit total denger suara bisingnya motor yang NAUDZUBILLAH, sampe di tempat gak konsentrasi masih gara2 hal yang sama, pulang-pulang debu dan asap membumbung di langit menjadi satu dan bener-bener bikin sesek napas, udah dipakein masker tapi percuma, sampe dorm muka kotor total karena asep, berhasrat mandi biar badan seger dan bisa belajar lagi, alhasil kepala pusing luar biasa, dada masih kerasa sesek, kuping BUDEK.
Mohon maaf mungkin kalo ada kata-kata yang sekiranya menyakitkan hati bagi pembaca. Tapi inilah isi hati yang sesungguhnya dari Anak Indonesia yang sesebel apapun tetap mencintai negaranya dengan tetap tinggal di Indonesia.
Untuk para pemerintah yang bijaksana, adil, dan mengerti keadaan rakyatnya, mohon untuk ditindaklanjuti dengan sebaik-baiknya
Sekian dan Terimakasih untuk perhatiannya :)
Sabtu, 22 Maret 2014
Selasa, 18 Maret 2014
Inspirasi
Share sedikit cerita
Selamat membacaa.. :)
Ketika saya kuliah di IPB dulu mengalami kesulitan financial yang amat sangat. Bekal dari orang tua tidak cukup. Pernah tidur di Masjid kampus selama lebih dari satu tahun. Bisa makan dua kali sehari merupakan satu prestasi. Saya berkirim surat kepada guru saya, saudara saya yang secara ekonomi lebih mapan dan juga orang-orang kaya di kampung untuk meminta bantuan. Dengan harapan mereka bersedia mengulurkan tangan kepada saya, karena saya satu-satunya orang yang kuliah di IPB, baik di kampung saya maupun asal sekolah saya. Respon yang saya terima pertama kali dari ibu Ade Meliza guru saya, ia mengirimkan kamus bahasa Inggris kepada saya. Saya sangat senang mendapat kiriman kamus itu walau memang yang saya butuhkan ketika itu uang untuk menyambung hidup bukan kamus. Di saat puncak kesulitan saya bermunajat kepada Allah. Dan melalui siapakah dia menolong?
Kang Paiman. Dia adalah putra bude saya yang tinggal di Kutoarjo Jawa Tengah. Di sore hari menjelang malam disertai hujan gerimis ia datang ke Bogor dengan membawa kardus berisi beras, pisang, mie instant, ikan asin dan makanan ringan khas Kutoarjo (klanthing). Saya tidak menduga sama sekali dia datang. Untuk mencari alamat saya. Ia membutuhkan waktu setengah hari dengan memanggul kardus itu. Dari Kutoarjo ia berangkat sore hari naik Damri menuju Bogor. Pagi hari ia sudah sampai di Bogor. Ia bingung harus mencari kemana? Ditunggu di kampus tak ketemu karena ternyata mahasiswanya ribuan. Tanya puluhan orang yang lewat di dalam kampus tidak ada yang tahu nama Jamil.
Setelah bermandikan keringat dan lelah mencari saya, dia pergi ke masjid untuk sholat mahgrib dan melepas lelah. Dia berniat menginap juga di masjid itu dan tak akan pulang ke Kutoarjo sebelum bertemu dengan saya. Namun tanpa diduga, usai sholat maghrib dia melihat saya dan tanpa ragu kemudian ia memeluk saya begitu erat sambil menangis tersedu-sedu. Saya sendiri bingung, karena tidak tahu siapa yang memeluk saya karena sudah lebih dari 10 tahun tidak bertemu dengannya. Sambil terus menangis dan memeluk saya dia mengatakan “Mil ini kang Paiman” saat itulah tangis saya tak terbendung.
Air mata saya semakin membasahi pipi setelah ia menyerahkan kardus yang sangat berat berisi beras, pisang, mis intant, ikan asin dan klanthing. Kardus yang berat itu terus ia panggul ketika mencari saya. Ketika menyerahkan kardus itu ia mengatakan “Kang Paiman gak punya apa-apa jadi hanya membawa ini. Alhamdulillah kang Paiman juga punya sedikit rizki, ini ada lima puluh ribu, kamu terima semoga bisa sedikit membantu kamu kuliah. Saya berharap kamu bisa selesai kuliah jadi insinyur pertanian” Perasaan saya ketika itu berkecamuk antara haru dan bangga dengan kang Paiman. Ternyata Allah menolong kegelisahan saya melalui Kang Paiman yang hanya tukang kebun di SD Negeri Gentan Kutoarjo dengan gaji yang tidak seberapa. Padahal, sayapun tidak berkirim surat meminta tolong kepada kang Paiman.
Sejak saat itu komitmen saya untuk menjadi insinyur pertanian semakin kuat. Saya ingin membalas harapan dan kebaikan yang telah kang Paiman berikan kepada saya. Dan hingga kinipun nama Kang Paiman masih terpatri kuat di dalam pikiran dan hati saya. Tanpa peran kang Paiman mungkin saya tidak akan menjadi insinyur pertanian dan menjadi Jamil yang sekarang. Terima kasih kang Paiman, sang tukang kebun yang begitu mulia.
-dari bapak di kiriim via email. thanks dady ({})-
Selamat membacaa.. :)
Ketika saya kuliah di IPB dulu mengalami kesulitan financial yang amat sangat. Bekal dari orang tua tidak cukup. Pernah tidur di Masjid kampus selama lebih dari satu tahun. Bisa makan dua kali sehari merupakan satu prestasi. Saya berkirim surat kepada guru saya, saudara saya yang secara ekonomi lebih mapan dan juga orang-orang kaya di kampung untuk meminta bantuan. Dengan harapan mereka bersedia mengulurkan tangan kepada saya, karena saya satu-satunya orang yang kuliah di IPB, baik di kampung saya maupun asal sekolah saya. Respon yang saya terima pertama kali dari ibu Ade Meliza guru saya, ia mengirimkan kamus bahasa Inggris kepada saya. Saya sangat senang mendapat kiriman kamus itu walau memang yang saya butuhkan ketika itu uang untuk menyambung hidup bukan kamus. Di saat puncak kesulitan saya bermunajat kepada Allah. Dan melalui siapakah dia menolong?
Kang Paiman. Dia adalah putra bude saya yang tinggal di Kutoarjo Jawa Tengah. Di sore hari menjelang malam disertai hujan gerimis ia datang ke Bogor dengan membawa kardus berisi beras, pisang, mie instant, ikan asin dan makanan ringan khas Kutoarjo (klanthing). Saya tidak menduga sama sekali dia datang. Untuk mencari alamat saya. Ia membutuhkan waktu setengah hari dengan memanggul kardus itu. Dari Kutoarjo ia berangkat sore hari naik Damri menuju Bogor. Pagi hari ia sudah sampai di Bogor. Ia bingung harus mencari kemana? Ditunggu di kampus tak ketemu karena ternyata mahasiswanya ribuan. Tanya puluhan orang yang lewat di dalam kampus tidak ada yang tahu nama Jamil.
Setelah bermandikan keringat dan lelah mencari saya, dia pergi ke masjid untuk sholat mahgrib dan melepas lelah. Dia berniat menginap juga di masjid itu dan tak akan pulang ke Kutoarjo sebelum bertemu dengan saya. Namun tanpa diduga, usai sholat maghrib dia melihat saya dan tanpa ragu kemudian ia memeluk saya begitu erat sambil menangis tersedu-sedu. Saya sendiri bingung, karena tidak tahu siapa yang memeluk saya karena sudah lebih dari 10 tahun tidak bertemu dengannya. Sambil terus menangis dan memeluk saya dia mengatakan “Mil ini kang Paiman” saat itulah tangis saya tak terbendung.
Air mata saya semakin membasahi pipi setelah ia menyerahkan kardus yang sangat berat berisi beras, pisang, mis intant, ikan asin dan klanthing. Kardus yang berat itu terus ia panggul ketika mencari saya. Ketika menyerahkan kardus itu ia mengatakan “Kang Paiman gak punya apa-apa jadi hanya membawa ini. Alhamdulillah kang Paiman juga punya sedikit rizki, ini ada lima puluh ribu, kamu terima semoga bisa sedikit membantu kamu kuliah. Saya berharap kamu bisa selesai kuliah jadi insinyur pertanian” Perasaan saya ketika itu berkecamuk antara haru dan bangga dengan kang Paiman. Ternyata Allah menolong kegelisahan saya melalui Kang Paiman yang hanya tukang kebun di SD Negeri Gentan Kutoarjo dengan gaji yang tidak seberapa. Padahal, sayapun tidak berkirim surat meminta tolong kepada kang Paiman.
Sejak saat itu komitmen saya untuk menjadi insinyur pertanian semakin kuat. Saya ingin membalas harapan dan kebaikan yang telah kang Paiman berikan kepada saya. Dan hingga kinipun nama Kang Paiman masih terpatri kuat di dalam pikiran dan hati saya. Tanpa peran kang Paiman mungkin saya tidak akan menjadi insinyur pertanian dan menjadi Jamil yang sekarang. Terima kasih kang Paiman, sang tukang kebun yang begitu mulia.
-dari bapak di kiriim via email. thanks dady ({})-
Minggu, 16 Maret 2014
First Day :*
alhamdulillah hari ini ujian hari pertama
sakjane gak pertama juga sih lah dari kemarin udah uprak kok, hehe
pertama kali uprak itu bahasa indonesia
buat essay untuk antologi lulusan
dan itu udah aku posting beberapa minggu yang lalu XD
terus kedua harusnya pidato bahasa indonesia juga
tapi berhubung waktu itu ada libur bulanan dan segala macemnya, so jadi di undur deh
yang ketiga uprak fisika. kalo yang ini susah susah gampang. lah pie gak dikata susah wong suruh ngerangkai listrik kok, terus gimana gak gampang wong listriknya pendek kok, wkwkkw
yang keempat olahragaaa.. wues buset dah~ yang ini asyik bin kesel. but secara selama kelas 12 pacarannya sama buku terus kok tiba2 badan suruh gerak semua. mana gerakannya langsung ekstrim pula. ada vitro, lari katak, lari sprint, situp. asli deh, paginya badan kaku semua, terutama bagian lengan, paha sama perut. jelaslah yang namanya situp kalo gak kebiasa langsung kram, lengan di buat lempar bola basket yo jadi kaget.
terus yang ke.. lima ya, hehhe.. itu uprak kimia.. ini mash asik men, soalnya kita suruh ngamatin indikator asam basa pake bunga. jadi sorenya kita cari bunga, njuk bunganya di tumbuk, di kasih sedikit air, habis itu di tetesi macem2 bahan kimia, yang hasilnya warna ada yang berubah ada yang enggak. misalnya nih air bunga sepatu, kan tadinya warna coklat ya, pas ditetesi asam langsung warna merah! subhanallah Allah menciptakan segala sesuatunya serba indah. mana ada manusia bisa bikin yang begituan, hehehe
next..
hari ini dengan badan yang pegel2 setelah uprak olahraga kemarin sabtu dan ikut famday di BIAS *this is my school :D* kita semua kelas 12 yang bentar lagi lulus dan jadi anak kuliahan *amin* menjalani usek. usek is ujian sekolah yang nilainya ini juga menetukan kelulusan.
jam pertama itu PAI. PAI is Pendidikan Agama Islam. yes! kalo yang ini sedikit agak rumit. soalnya materi agama yang biasa kita pelajari agak berbeda sama materi pendidikan agamanya dinas. mana materinya ada yang belum selese pula~ huftt.. tapi gak boleh ngeluh donk! HARUS TETAP SEMANGAT dan CERIA untuk menghadapi hari-hari selanjutnya :)
terus jam kedua bahasa indonesia. kalo yang ini cobaan banget. habis mikir PAI tuh ya tenaga nya terkuras banyak, jadi bisa di bilang energi pagi tadi dr sarapan udah habis. njuk jadi ngantuk2 kelaperan gicuu.. padahal indoonesia mikirnya juga berat loh, hehehe... tapi tak apa, setiap mau mulai ngerjakan apapun tetap harus baca basmallah dan optimis :D
sekian isi hatiku hari ini :) aku mau belajar untuk usek hari esok.. doanya all ({})
sakjane gak pertama juga sih lah dari kemarin udah uprak kok, hehe
pertama kali uprak itu bahasa indonesia
buat essay untuk antologi lulusan
dan itu udah aku posting beberapa minggu yang lalu XD
terus kedua harusnya pidato bahasa indonesia juga
tapi berhubung waktu itu ada libur bulanan dan segala macemnya, so jadi di undur deh
yang ketiga uprak fisika. kalo yang ini susah susah gampang. lah pie gak dikata susah wong suruh ngerangkai listrik kok, terus gimana gak gampang wong listriknya pendek kok, wkwkkw
yang keempat olahragaaa.. wues buset dah~ yang ini asyik bin kesel. but secara selama kelas 12 pacarannya sama buku terus kok tiba2 badan suruh gerak semua. mana gerakannya langsung ekstrim pula. ada vitro, lari katak, lari sprint, situp. asli deh, paginya badan kaku semua, terutama bagian lengan, paha sama perut. jelaslah yang namanya situp kalo gak kebiasa langsung kram, lengan di buat lempar bola basket yo jadi kaget.
terus yang ke.. lima ya, hehhe.. itu uprak kimia.. ini mash asik men, soalnya kita suruh ngamatin indikator asam basa pake bunga. jadi sorenya kita cari bunga, njuk bunganya di tumbuk, di kasih sedikit air, habis itu di tetesi macem2 bahan kimia, yang hasilnya warna ada yang berubah ada yang enggak. misalnya nih air bunga sepatu, kan tadinya warna coklat ya, pas ditetesi asam langsung warna merah! subhanallah Allah menciptakan segala sesuatunya serba indah. mana ada manusia bisa bikin yang begituan, hehehe
next..
hari ini dengan badan yang pegel2 setelah uprak olahraga kemarin sabtu dan ikut famday di BIAS *this is my school :D* kita semua kelas 12 yang bentar lagi lulus dan jadi anak kuliahan *amin* menjalani usek. usek is ujian sekolah yang nilainya ini juga menetukan kelulusan.
jam pertama itu PAI. PAI is Pendidikan Agama Islam. yes! kalo yang ini sedikit agak rumit. soalnya materi agama yang biasa kita pelajari agak berbeda sama materi pendidikan agamanya dinas. mana materinya ada yang belum selese pula~ huftt.. tapi gak boleh ngeluh donk! HARUS TETAP SEMANGAT dan CERIA untuk menghadapi hari-hari selanjutnya :)
terus jam kedua bahasa indonesia. kalo yang ini cobaan banget. habis mikir PAI tuh ya tenaga nya terkuras banyak, jadi bisa di bilang energi pagi tadi dr sarapan udah habis. njuk jadi ngantuk2 kelaperan gicuu.. padahal indoonesia mikirnya juga berat loh, hehehe... tapi tak apa, setiap mau mulai ngerjakan apapun tetap harus baca basmallah dan optimis :D
sekian isi hatiku hari ini :) aku mau belajar untuk usek hari esok.. doanya all ({})
Jumat, 14 Maret 2014
Ikutan Lomba KKR :D
hahaha,,, tadi harusnya yang di posting ini dulu.. berhubung tadi disconnect jadi ketinggalan deh
mudah2an kerja kerasku ada hasilnya ya allah
amin :D
mudah2an kerja kerasku ada hasilnya ya allah
amin :D
Rinai
Hujan di Sore Hari
Di suatu sore..
“Ira kamu kenapa?”
“Gapapa
kok”
“Yakin
gapapa? Aku beliin makan ya? Aku beliin obat ya?”
“Gak
usah aja Nis, aku gapapa kok”
Aku
Ira, seorang anak yang sedang bersekolah di sekolah jurnalis di salah satu koran
Jogja. Sore itu aku dan teman-temanku sedang rapat membicarakan tema edisi
depan. Tetapi tiba-tiba penyakitku kambuh. Udah beberapa bulan ini aku terkena maag yang tergolong parah. Setiap aku
telat makan atau makan sesuatu yang ada unsur pedasnya perutku luar biasa
sakit.
Pagi
tadi aku baru ikut sepedaan santai yang diselenggarakan sekolahku. Rutenya dari
sekolahku di daerah pinggiran Kota Jogja hingga Taman Pintar di Malioboro. Tiba
di Taman Pintar kita harus melalui game-game.
Tapi sebelum itu, panitia acara telat memberikan sarapan pagi untuk para
peserta hingga menjelang siang sarapan tersebut bari tiba. Lepas siang hari
acara tersebut selesai, aku langsung kembali ke rumah untuk mengembalikan
sepeda dan berangkat ke kantor redaksi untuk rapat.
Aku
beranggapan sebelum rapat mau mampir ke warung untuk makan siang. Entah kenapa
tak ada satu warung yang membuatku selera. Daripada kelaparan di tengah rapat
aku mampir ke toko membeli susu dan roti untuk mengganjal perut. Akhirnya ku
paksakan diri untuk mengikuti rapat dan menunggu angkringan di depan kantor
buka.
Selama
rapat berlangsung aku tidak merasakan hawa-hawa sakit. Tetapi tiba-tiba maag ku
kambuh seketika. Beruntung ruang rapatnya berselonjor di bawah, aku langsung
dibaringkan oleh teman-temanku. Awalnya teman-temanku berpikir untuk
mengantarkanku pulang, tetapi mereka tidak tega melihatku menahan sakit selama
perjalanan pulang nanti.
“Ra,
handphone kamu mana? Sini pinjem aku,
mau bilang ayah suruh jemput aku, punyaku mati.” kata Fifi
“Nih,
jangan nelfon tapi ya, gak ada pulsanya.” sahutku
Karena
aku mendadak sakit, akhirnya rapat dibubarkan dan aku tergeletak lemah. Satu
persatu temanku pulang, hanya tinggal Fifi dan Anis yang menemaniku.
“Aku
pulang dulu ya Ra, di anter sama Anis ke halte” pamit Fifi
“Yaudah
hati-hati ya, nanti kunci nya aku kasih ke satpam” balasku
Tinggallah
aku seorang diri di ruangan itu. Saking sakitnya aku kemudian tertidur hingga
terdengar pintu diketuk pelan.
“Sayang kamu kenapa?
Kok gak bilang kalo sakit?” katanya
“Heh? Siapa kamu? Kok
tau aku sakit?” balasku
Tiba-tiba....
“Surprise Ira sayaang,
hahaa.. Tadi aku pinjem handphone kamu
buat ngasih tau ke pacarmu kalo kamu sakit, terus barusan aku sama Anis beliin
roti, obat, susu buat ngganjel perutmu, ku pikir dia datengnya lama, eh
barengan ternyata” kata Fifi yang mendadak muncul.
Ya
ampun! Aku seketika speechless.
Sebaik ini kah temen aku? Yang diam-diam berbohong pinjem HP buat kasih kabar
ke pacar aku? Sebaik ini kah pacar aku yang rela dateng buat jemput aku? Bagi
Kak Rama apakah aku lebih penting ketimbang UN? Rela buang duit bayar taksi
buat jemput aku karena gak ada kendaraan?
Sekitar
setengah jam kami mengobrol sambil aku menghabiskan makanan yang mereka
belikan, Fifi dan Anis pamit pulang. Tinggallah aku dan Kak Rama yang belum
pulang. Belum sempat aku berbicara, Kak Rama langsung mengajakku keluar dari
ruangan dan menyerahkan kunci ruangan ke satpam.
Tiba di tepi jalan
raya, Kak Rama menghentikan sebuah taksi. Ku pikir dia akan mengantarku pulang,
tetapi Kak Rama bilang ke supir taksi minta diantarkan ke Malioboro. Bukan
pertama kalinya juga sih aku jalan-jalan sama dia. Tapi baru pertama kali ini,
dia ngajak aku jalan tanpa minta persetujuanku. Yang menyebalkan adalah ketika
sampe di Malioboro tiba-tiba hujan turun sangat deras. Kebetulan aku sedang
tidak membawa payung. Akhirnya kita mencari tempat berteduh sementara. Lalu
kami mampir ke sebuah angkringan.
“Dih gak elite banget
sih makan di tempat ginian, di dalem mall aja kenapa?” sewotku
“Kenapa sih? Gak mau
aku traktir? Lagian romantisan di sini kali, teduh, bisa ngobrol lama, mau
makan sepuasnya aku traktir deh yang lagi sakit, hehe” balasnya tenang
Lagi-lagi
aku speechless. Aku diam dalam
lebatnya hujan. Tidak lama langit terlihat terang. Kak Rama mengajakku untuk
menelusuri jalanan malioboro hingga Km 0. Aku memberontak karena sangat jauh
jarak yang akan kami lalui, dengan santainya Kak Rama berjalan meninggalkanku.
Apa boleh buat? Aku pun mengikutinya karena takut ditinggal.
“Ih katanya gak mau jalan
jauh, takut capek, ntar keringetan. Sini situ deket sayang, lagian sama aku
ini, di sambi ngobrol juga gak kerasa, hahahaa.. itung-itung kurusin badan tuh,
biar langsingan dikit” ejeknya dengan muka polos
“Hem..
ikut aja deh”
Dalam
hati aku bersorak riang karena punya waktu banyak dengan Kak Rama. Sepanjang
perjalanan tak henti-hentinya aku dan Kak Rama berceloteh sambil bercanda. Tak
terasa langit mulai gelap pertanda malam tiba dan Km 0 telah kami lampaui.
“Makan lagi yuk, anggep
aja tadi makan siang sekalian ngobatin penyakitmu itu, sekarang waktunya makan
malem. Nanti habis makan langsung pulang ya, aku anter deh sampe gerbang
rumahmu, gak baik loh cewek keluyuran
malem-malem, nanti dicariin mama gimana yooh, haha” ledeknya
“Oke
oke up to you sih, haha”
Kenyang
makan keduaku, kami langsung mencari taksi dan pulang. Tiba di halaman
rumahku..
“Makasih
ya sayang udah nemenin jalan hari ini, doain aku UN nya lancar, besok lagi
jalan habis aku UN ya, hehe”
“Iya
kak, makasih juga udah rela-relain njemput”
“Sante
aja kali, aku seneng kok bisa nemenin kamu, gak ada apa-apanya aku ini cuma
njemput kamu di banding kamu nemenin aku jalan sesorean ini”
Huwaaaa...
Aku gak bisa ngomong apa-apa lagi! Perlahan aku keluar dari taksi dan
meninggalkan senyum untuk Kak Rama. Kak Rama pun membalas senyuman hingga
perlahan taksi tersebut meninggalkanku yang sedang senang dan mengantarkan Kak
Rama pulang ke rumah.
Ikutan Lomba KKK :)
yang ini mudah2an kena juga, amin :3
Kursi
yang Malang
Masa-masa di sekolah
adalah hal terindah yang tak mungkin dilupakan. Berbagai kenangan indah bersama
teman-teman merupakan suatu pengalaman tersendiri yang orang lain tak bisa
merasakannya. Apalagi masa-masa SMA. Dimana usia yang baru tumbuhnya seorang
remaja energik, dinamis, penuh tantangan, dan mencari jati diri.
Usiaku
saat ini menginjak 18 tahun, yang artinya masa dimana aku sedang menjalani
masa-masa SMA akan berakhir. Beberapa minggu lagi UN akan dilaksanakan. Banyak persiapan
yang aku dan teman-teman hadapi untuk menaklukan momok terberat untuk lulus dari bangku SMA. Mulai dari mengikuti
bimbel, jam tambahan pagi-sore, bertanya guru, kerja kelompok, semua usaha
keras kami jalan bersama-sama. Ditambah sekolahku ada sekolah baru yang
muridnya masih tergolong mungil
suasana kekeluargaan terasa sangat kental.
Adalah
kurang dari 20 siswa-siswi untuk angkatanku. Rata-rata dari kami berasal bukan
dari daerah yang kita diami, Jogja. Dikarenakan kami semua bersekolah di
sekolah asrama, maka banyak kami dari termasuk anak rantauan. Mulai dari Jawa
Tengah, Jawa Barat, Jakarta, hingga Riau ada di kelas kami. Perbedaan itulah
yang membuat kita mempunyai banyak kenangan.
Suatu
siang..
“Nduuutt.. kamu tuh ya,
kalo jalan yang bener sih, tuh kan minumku tumpah, ayo di lap!” hardik Adit
“Maap-maap kakak, gak
kan sengaja. Aku gak mau ngelap. Aku gak tau kain lapnya dimana” kata Bagus
yang biasa di panggil gendut
“Yoh aku temenin, tapi
nanti kamu yang ngelap ya” kata Ira
“Oke” balas Bagus
Tak lama kemudian..
“DEBUMMMMMM!!!!!!!”
“Baguuussssss,,, jalan
yang cepet bisa gak sih, basah nih baju aku gara-gara tumpahan minumnya belum
kamu lap” marah Rahman
“Wkkwkwkw, salah kamu
tau basah-basah di injek, hati-hati dong kakak” ejek Bagus
“Udah-udah gek ambil
lap, terus di bersihin kasihan kalo ada yang kepleset lagi” kataku
Tak lama kemudian Bagus
kembali ke kelas dan membersihkan minuman yang tak sengaja ia senggol. Selama mengepel
tak henti-hentinya Bagus di goda oleh teman-teman yang lain. Tingkah Bagus yang
lucu ini membuat kita tidak pernah berhenti ketawa dan menggodanya.
Sebenarnya Bagus ini
orangnya tidak gendut, tetapi badan dia yang gempal dan mempunyai sifat ngelucu ini yang membuat dia dipanggil
gendut. Maksud dari kita memanggil dia gendut bukan pula sebuah panggilan
hinaan, tetapi kita anggap panggilan kesayangan karena menurut kita dia
orangnya lucu. Sehingga tidak ada kata mengejek dan marah-marah yang
sesungguhnya.
Selesai mengepel, Bagus
mengembalikan kain lap pel dan dengan riangnya berjalan kembali ke kelas. Karena
sebagian kelas basah oleh tingkahnya, kami mengobrol di depan kelas supaya
segar. Maklum sekolah kita banyak tanamannya. Di depan kelas sudah disediakan
kursi panjang yang memang biasa digunakan untuk mengobrol siswa-siswi. Entah tak
ada satupun dari kami yang tertarik duduk di situ. Lalu dengan gaya khasnya,
Bagus duduk sambil mengangkat kaki. Tiba-tiba..
“KREEKK!! BUUUMM!!!”
“Wkkwkww, Bagus kamu
kenapa lagi? Udah njatuhin minum terus matahin kursi”
Spontan kita semua
terbahak-bahak hingga kami diperingatkan oleh guru. Namun apa daya. Melihat ulah
Bagus yang sejak tadi membuat tertawa kali ini sudah bertingkah lagi. Parahnya ketika
kita sedang tertawa yang dilakukan Bagus hanya menutupi mukanya dengan tangan
tanpa berpindah tempat atau membenarkan kursi tersebut. Mukanya yang semakin
lucu itu, semakin kita tidak bisa berhenti tertawa. Dengan polos dan tanpa
ekspresi marah dia berkata..
“Jangan ketawa to, aku
malu, lagian kalian jahat gak bilang kalo kursinya rusak, gak mau bantuin aku
kalo aku jatuh, malah di ketawain pula”
Makin tertawa kita
membuncah. Tapi apa daya energi kita habis untuk tertawa, kami langsung
membantu Bagus berdiri dan membenarkan kursi tersebut.
Usai kejadian itu, kami
tetap mengobrol dan tertawa bersama-sama. Tidak ada perasaan marah dan kesal
karena kejadian tadi.
Langganan:
Komentar (Atom)