Kursi
yang Malang
Masa-masa di sekolah
adalah hal terindah yang tak mungkin dilupakan. Berbagai kenangan indah bersama
teman-teman merupakan suatu pengalaman tersendiri yang orang lain tak bisa
merasakannya. Apalagi masa-masa SMA. Dimana usia yang baru tumbuhnya seorang
remaja energik, dinamis, penuh tantangan, dan mencari jati diri.
Usiaku
saat ini menginjak 18 tahun, yang artinya masa dimana aku sedang menjalani
masa-masa SMA akan berakhir. Beberapa minggu lagi UN akan dilaksanakan. Banyak persiapan
yang aku dan teman-teman hadapi untuk menaklukan momok terberat untuk lulus dari bangku SMA. Mulai dari mengikuti
bimbel, jam tambahan pagi-sore, bertanya guru, kerja kelompok, semua usaha
keras kami jalan bersama-sama. Ditambah sekolahku ada sekolah baru yang
muridnya masih tergolong mungil
suasana kekeluargaan terasa sangat kental.
Adalah
kurang dari 20 siswa-siswi untuk angkatanku. Rata-rata dari kami berasal bukan
dari daerah yang kita diami, Jogja. Dikarenakan kami semua bersekolah di
sekolah asrama, maka banyak kami dari termasuk anak rantauan. Mulai dari Jawa
Tengah, Jawa Barat, Jakarta, hingga Riau ada di kelas kami. Perbedaan itulah
yang membuat kita mempunyai banyak kenangan.
Suatu
siang..
“Nduuutt.. kamu tuh ya,
kalo jalan yang bener sih, tuh kan minumku tumpah, ayo di lap!” hardik Adit
“Maap-maap kakak, gak
kan sengaja. Aku gak mau ngelap. Aku gak tau kain lapnya dimana” kata Bagus
yang biasa di panggil gendut
“Yoh aku temenin, tapi
nanti kamu yang ngelap ya” kata Ira
“Oke” balas Bagus
Tak lama kemudian..
“DEBUMMMMMM!!!!!!!”
“Baguuussssss,,, jalan
yang cepet bisa gak sih, basah nih baju aku gara-gara tumpahan minumnya belum
kamu lap” marah Rahman
“Wkkwkwkw, salah kamu
tau basah-basah di injek, hati-hati dong kakak” ejek Bagus
“Udah-udah gek ambil
lap, terus di bersihin kasihan kalo ada yang kepleset lagi” kataku
Tak lama kemudian Bagus
kembali ke kelas dan membersihkan minuman yang tak sengaja ia senggol. Selama mengepel
tak henti-hentinya Bagus di goda oleh teman-teman yang lain. Tingkah Bagus yang
lucu ini membuat kita tidak pernah berhenti ketawa dan menggodanya.
Sebenarnya Bagus ini
orangnya tidak gendut, tetapi badan dia yang gempal dan mempunyai sifat ngelucu ini yang membuat dia dipanggil
gendut. Maksud dari kita memanggil dia gendut bukan pula sebuah panggilan
hinaan, tetapi kita anggap panggilan kesayangan karena menurut kita dia
orangnya lucu. Sehingga tidak ada kata mengejek dan marah-marah yang
sesungguhnya.
Selesai mengepel, Bagus
mengembalikan kain lap pel dan dengan riangnya berjalan kembali ke kelas. Karena
sebagian kelas basah oleh tingkahnya, kami mengobrol di depan kelas supaya
segar. Maklum sekolah kita banyak tanamannya. Di depan kelas sudah disediakan
kursi panjang yang memang biasa digunakan untuk mengobrol siswa-siswi. Entah tak
ada satupun dari kami yang tertarik duduk di situ. Lalu dengan gaya khasnya,
Bagus duduk sambil mengangkat kaki. Tiba-tiba..
“KREEKK!! BUUUMM!!!”
“Wkkwkww, Bagus kamu
kenapa lagi? Udah njatuhin minum terus matahin kursi”
Spontan kita semua
terbahak-bahak hingga kami diperingatkan oleh guru. Namun apa daya. Melihat ulah
Bagus yang sejak tadi membuat tertawa kali ini sudah bertingkah lagi. Parahnya ketika
kita sedang tertawa yang dilakukan Bagus hanya menutupi mukanya dengan tangan
tanpa berpindah tempat atau membenarkan kursi tersebut. Mukanya yang semakin
lucu itu, semakin kita tidak bisa berhenti tertawa. Dengan polos dan tanpa
ekspresi marah dia berkata..
“Jangan ketawa to, aku
malu, lagian kalian jahat gak bilang kalo kursinya rusak, gak mau bantuin aku
kalo aku jatuh, malah di ketawain pula”
Makin tertawa kita
membuncah. Tapi apa daya energi kita habis untuk tertawa, kami langsung
membantu Bagus berdiri dan membenarkan kursi tersebut.
Usai kejadian itu, kami
tetap mengobrol dan tertawa bersama-sama. Tidak ada perasaan marah dan kesal
karena kejadian tadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar