mudah2an kerja kerasku ada hasilnya ya allah
amin :D
Rinai
Hujan di Sore Hari
Di suatu sore..
“Ira kamu kenapa?”
“Gapapa
kok”
“Yakin
gapapa? Aku beliin makan ya? Aku beliin obat ya?”
“Gak
usah aja Nis, aku gapapa kok”
Aku
Ira, seorang anak yang sedang bersekolah di sekolah jurnalis di salah satu koran
Jogja. Sore itu aku dan teman-temanku sedang rapat membicarakan tema edisi
depan. Tetapi tiba-tiba penyakitku kambuh. Udah beberapa bulan ini aku terkena maag yang tergolong parah. Setiap aku
telat makan atau makan sesuatu yang ada unsur pedasnya perutku luar biasa
sakit.
Pagi
tadi aku baru ikut sepedaan santai yang diselenggarakan sekolahku. Rutenya dari
sekolahku di daerah pinggiran Kota Jogja hingga Taman Pintar di Malioboro. Tiba
di Taman Pintar kita harus melalui game-game.
Tapi sebelum itu, panitia acara telat memberikan sarapan pagi untuk para
peserta hingga menjelang siang sarapan tersebut bari tiba. Lepas siang hari
acara tersebut selesai, aku langsung kembali ke rumah untuk mengembalikan
sepeda dan berangkat ke kantor redaksi untuk rapat.
Aku
beranggapan sebelum rapat mau mampir ke warung untuk makan siang. Entah kenapa
tak ada satu warung yang membuatku selera. Daripada kelaparan di tengah rapat
aku mampir ke toko membeli susu dan roti untuk mengganjal perut. Akhirnya ku
paksakan diri untuk mengikuti rapat dan menunggu angkringan di depan kantor
buka.
Selama
rapat berlangsung aku tidak merasakan hawa-hawa sakit. Tetapi tiba-tiba maag ku
kambuh seketika. Beruntung ruang rapatnya berselonjor di bawah, aku langsung
dibaringkan oleh teman-temanku. Awalnya teman-temanku berpikir untuk
mengantarkanku pulang, tetapi mereka tidak tega melihatku menahan sakit selama
perjalanan pulang nanti.
“Ra,
handphone kamu mana? Sini pinjem aku,
mau bilang ayah suruh jemput aku, punyaku mati.” kata Fifi
“Nih,
jangan nelfon tapi ya, gak ada pulsanya.” sahutku
Karena
aku mendadak sakit, akhirnya rapat dibubarkan dan aku tergeletak lemah. Satu
persatu temanku pulang, hanya tinggal Fifi dan Anis yang menemaniku.
“Aku
pulang dulu ya Ra, di anter sama Anis ke halte” pamit Fifi
“Yaudah
hati-hati ya, nanti kunci nya aku kasih ke satpam” balasku
Tinggallah
aku seorang diri di ruangan itu. Saking sakitnya aku kemudian tertidur hingga
terdengar pintu diketuk pelan.
“Sayang kamu kenapa?
Kok gak bilang kalo sakit?” katanya
“Heh? Siapa kamu? Kok
tau aku sakit?” balasku
Tiba-tiba....
“Surprise Ira sayaang,
hahaa.. Tadi aku pinjem handphone kamu
buat ngasih tau ke pacarmu kalo kamu sakit, terus barusan aku sama Anis beliin
roti, obat, susu buat ngganjel perutmu, ku pikir dia datengnya lama, eh
barengan ternyata” kata Fifi yang mendadak muncul.
Ya
ampun! Aku seketika speechless.
Sebaik ini kah temen aku? Yang diam-diam berbohong pinjem HP buat kasih kabar
ke pacar aku? Sebaik ini kah pacar aku yang rela dateng buat jemput aku? Bagi
Kak Rama apakah aku lebih penting ketimbang UN? Rela buang duit bayar taksi
buat jemput aku karena gak ada kendaraan?
Sekitar
setengah jam kami mengobrol sambil aku menghabiskan makanan yang mereka
belikan, Fifi dan Anis pamit pulang. Tinggallah aku dan Kak Rama yang belum
pulang. Belum sempat aku berbicara, Kak Rama langsung mengajakku keluar dari
ruangan dan menyerahkan kunci ruangan ke satpam.
Tiba di tepi jalan
raya, Kak Rama menghentikan sebuah taksi. Ku pikir dia akan mengantarku pulang,
tetapi Kak Rama bilang ke supir taksi minta diantarkan ke Malioboro. Bukan
pertama kalinya juga sih aku jalan-jalan sama dia. Tapi baru pertama kali ini,
dia ngajak aku jalan tanpa minta persetujuanku. Yang menyebalkan adalah ketika
sampe di Malioboro tiba-tiba hujan turun sangat deras. Kebetulan aku sedang
tidak membawa payung. Akhirnya kita mencari tempat berteduh sementara. Lalu
kami mampir ke sebuah angkringan.
“Dih gak elite banget
sih makan di tempat ginian, di dalem mall aja kenapa?” sewotku
“Kenapa sih? Gak mau
aku traktir? Lagian romantisan di sini kali, teduh, bisa ngobrol lama, mau
makan sepuasnya aku traktir deh yang lagi sakit, hehe” balasnya tenang
Lagi-lagi
aku speechless. Aku diam dalam
lebatnya hujan. Tidak lama langit terlihat terang. Kak Rama mengajakku untuk
menelusuri jalanan malioboro hingga Km 0. Aku memberontak karena sangat jauh
jarak yang akan kami lalui, dengan santainya Kak Rama berjalan meninggalkanku.
Apa boleh buat? Aku pun mengikutinya karena takut ditinggal.
“Ih katanya gak mau jalan
jauh, takut capek, ntar keringetan. Sini situ deket sayang, lagian sama aku
ini, di sambi ngobrol juga gak kerasa, hahahaa.. itung-itung kurusin badan tuh,
biar langsingan dikit” ejeknya dengan muka polos
“Hem..
ikut aja deh”
Dalam
hati aku bersorak riang karena punya waktu banyak dengan Kak Rama. Sepanjang
perjalanan tak henti-hentinya aku dan Kak Rama berceloteh sambil bercanda. Tak
terasa langit mulai gelap pertanda malam tiba dan Km 0 telah kami lampaui.
“Makan lagi yuk, anggep
aja tadi makan siang sekalian ngobatin penyakitmu itu, sekarang waktunya makan
malem. Nanti habis makan langsung pulang ya, aku anter deh sampe gerbang
rumahmu, gak baik loh cewek keluyuran
malem-malem, nanti dicariin mama gimana yooh, haha” ledeknya
“Oke
oke up to you sih, haha”
Kenyang
makan keduaku, kami langsung mencari taksi dan pulang. Tiba di halaman
rumahku..
“Makasih
ya sayang udah nemenin jalan hari ini, doain aku UN nya lancar, besok lagi
jalan habis aku UN ya, hehe”
“Iya
kak, makasih juga udah rela-relain njemput”
“Sante
aja kali, aku seneng kok bisa nemenin kamu, gak ada apa-apanya aku ini cuma
njemput kamu di banding kamu nemenin aku jalan sesorean ini”
Huwaaaa...
Aku gak bisa ngomong apa-apa lagi! Perlahan aku keluar dari taksi dan
meninggalkan senyum untuk Kak Rama. Kak Rama pun membalas senyuman hingga
perlahan taksi tersebut meninggalkanku yang sedang senang dan mengantarkan Kak
Rama pulang ke rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar